Konsep Bekerja dalam Prespektif Islam
(Telaan Pemikiran Intelektual Islam Kontemporer)
Oleh, Nanang A. Daud (Mahasiswa Ekonomi Syariah UMM)
Pendahuluan
Masalah etos kerja
dewasa ini telah menjadi satu komoditas perbincangan ditegah masyarakat
kita. Hal ini bahkan menjadi ajang
kajian akademik didunia perguruan tinggi. Hai ini bukan semata- mata karena
tanpa alasan tapi kenapa hal ini dilakukan karena kegalauan para kaum
intelektual bahwasannnya jika bangsa indonesia tidak mampu menumbuhkan etos
kerja yang berkualitas maka kemungkinan besar bangsa indonesia akan tetap
tertinggal oleh bangsa- bangsa lain, tanpa terkecuali oleh bangsa tetangga
dalam lingkungan Asia Tenggara, terlebih asia Timur. Akirnnya, muncul sebuah
ramalan yang bernada pesimis bahwa jika kita tidak berhasil menjadi megara maju
mka dalam waktu kurangdari ¼ abad yang akan datang, ketika seluruh asia timur
telah menjadi negara indutri, indonesia hnya tidak lebih negara back yard kawasan
asia.[1]
Bekerja dalam
pandangan islam, barangkali dapat dimulai dengan usha menangkap makna sedalam-
dalamnya sbda Nabi yang amat terkenal bhawa nilai setiap bentuk kerja itu
tergantung kepada niat- niat yang dipunyai pelekunya : jika tujuan nya
tinggi(mendapatkan ridlah Allah) maka iap un akan mendapatkan nilai kerja yang
tinggi, dan jika tujuannya rendah(bekerja untuk mendapat sipati dari orang lain
saja) maka setingkat itupula nilai dari
kerjanya tersebut.[2]
Dalam sabda nabi
juga diisyaratkan bahwa seorang muslim harus bekerja dengan niat memperoleh
ridlah Allah dan Rasul-nya. Sudha barang tentu hal ini merupakn standarisasi
ajaran islam. jadi jelas bahwa nilai sedekah pun akan hilang kebaikannya yang intrinsik karena motivasi
pelakunya rendah. Jadi kerja tanpa luhur itu mengalami kemuspuroan, tidak
bernilai, dan tidak mmberi kebahagian atau rasa makna kepada pelakunya.[3]
Bekerja merupakan
sebuah kewajiban bagi setiap muslim karena dengan bekerja manusia akan dapat
mengekspresikan dirinya sebagai manusia, mkaluk sempurna dalam sejarah
penciptaan Tuhan didunia ini. Kerja atau amal adalah bentuk keberadaan(mode
of exstence) manusia. Artinya manusia ada karena kerja dan karena kerja
itulah yang membuat atau mengisi eksistensi kemanusiaannya. Karena itu Rene
Descartes, seorang dilsuf dari prancis pada masa renainses , mengatakan , “aku
berpikir, maka aku ada”(cagito ergo sum) karena baginya berpikir
merupakan wujud dar manusia itu sendiri.
Pandangan ini sangat sentral dalam ajaran islam dalam kitab suci.
Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapat sesuatu apa pun melainkan dari
usahanya sendiri :
Belumkah ia manusia dibertahukan tentang apa yang ada dalam
lembaran suci nabi Musa ? dan nabi Ibrahim yang setia ? yakni bahwa seorang
yang berdosa tidak akan perna menangung
dosa orang lain. Dan tidaklah bagi manusia itu melainkan apa yag diushakannya.
Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan kepadanya kemudian akan mendapat
balasan yang setimpal dan bahwa Tuhanmulah tujuan penghabisan.(Qs; 52 : 36-42)
Itulah Yang
dimaksudkan bahwa kerja merupakan bentuk
manusia menunjukan eksistensi manusia itu sendiri. Manusia akan ternilai dimata
Tuhannya karena amal dan dengan amal itulah manusia ada dan amalan yang baik
akan mengangkat manusia kederajat yag
setingi-tingginya yaitu bertemu uhan dengak kerilaan. “barang siapa benar-
benar mengharapkan bertemu degan Tuhannya maka hendakal ia berbuaat baik dan
hendaklah ketika beribadah kepada Tuhan dia tidak melakukan kesyirikan(yakni
mengalihkan tujuan pekerjaan kepada selain Allah” sang maha benar, al-haqq
yang menajdi sumber nilai intrinsik
pekerjaan manusia.
Seperti yang telah
disampaikan diatas bahwa ajran islam dalam konteks kerja dapat dipandang secara
taken for granted oleh orang- orang muslim.tapi lagi –lagi implikasi
dari ajran itu patutuntuk kita renungkan secara medalam. Kalau manusia
dibedakan dengan manusia lainya dari amal yang diperbuatnya, maka dari itu
hendaklah ia tidak mengangap enteng dari setiap amal yang ia kerjakan, ia harus
memberi makna setiap pekerjaan yang ia lakukan, sehingga amalanya menjadi
bagian yang integral makna hidupnya lebih menyeluruh. Amal sebagai bentuk keberadaan dirinya, baik dan buruk dari
amalnya kan membentuk kepribadiannya. Hal yang keliru ketika mengapa pekerjaan
yang ia lakukan untuk orang lain dalam konteks eksistensinya, karena setiap
amal untuk dirinya sendiri. Bahkan demi menjaga kekokohan nilai intrinsiknya,
harus diorentasikannya kepada Tuhan sama hanya dengan melakukan jihad fi
sbililah. Hal ini sekaligus sebagai acuan mutlak manusia bahwa pekerjaanya,
baik maupun buruknya tidak diperuntukan untuk Tuhan melainkan utuk dirinya
sendiri. Krena secara tegas kitab suci menjelaskan bahwa barang siapa berbuat
baik maka tidak lain berbuat untuk dirinya sendiri, dan bebuat jahat tidak lain
untuk dirina sendiri juga.(Qs; 41:46) Barang siapa berterimahkasi kepada Allah
maka tidak lain ia berterimah kasih atas dirinya sendri.(Qs; 31:12)[4]
Pembahasan
Bekerja dalam Islam(Dimensi Ajaran Islam dalam konteks Bekerja)
Bekerja adalah fitrah
sekaligus kewajiban bagi setiap
muslim, karena dengan kerja seorang akan dengan mudah memahami eksistensinyan
sebagai manusia dimuka bumi ini yang didasarkan pada prinsip Iman(tauhid).
Bekerja bersal dari kata kerja yakni aktifitas, aksi, usaha, orang yang kerja
dinamakan pekerja, penghasil,produsen. Berbicara terkait kerja dalam pandangan
islam, Ahmad menggali dengan panjang lebar dari beberapa ayat al-quran[5],
antara lain :
“sesungguhnya orang- orang mukmin, orang-orang yahudi, orang- orang
nasrani dan orang-orang shalibin, siapa saja diantara mereka yang benar- benar
beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerimah
pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”(Qs: 2:62)
“bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang mukmin akan
melihat pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yag maha mengetahui
yang mha gaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu
kerjakan”.(Qs; 9:105)
Al-Quran menyebutkan tentang kerja, dalam suatu konteks dengan yang lainnya, dnegan frekuensi yang demikian banyak. Bahkan hampir disetiap halaman menurut Ahmad, al-Quran ada yang merefrens pada kerja itu. Ada sebanyak 360 ayat yang membicarakan tentang amal dan 109 yang lainya membicarakan tentang fi’il (dua kaa itu sama- sama bermakna kerja). Banyaknya term tentang kerja dalam al-quran menunjukan bahwa kerja adalah suatu aspek dunia yang sangat penting khususnya kerja yang produktif dan aktivitas menghasilkan. Dalam kaitan dengan kerja Abdul Hadi menyatakan bahwa islam sebagai ideologi praktis sebagaimana juga sebagai ideologi politik. Sedangkan Ismail Raji al-Furaqi dengan daya empatik mengatakan bahwasannya islam adalah a relegion of actions (agama aksi).[6] Justru hal ini karena melihat posisi kerja dalam al-quran maka islam sangat mencela pada sikap malas dan berpangku tangan.(Qs; 103 : 1-3)
Al-Quran tidak hanya sebatas hanya memberikan acaman berupa celaan
bagi sikap pemalas lebih jauh lagi islam juga melalui al-Quran memberikan
motivasi dalam hal bekerja dengan janji pahala yang melimpah bagi pelakunya
dengan memberikan insentif untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas kerjanya.(Qs; 3: 172; 4: 95) bahka lebih jauh
lagi islam menganjurkan untuk setiap muslim mampu menguasai IPTEK,(Qs; 57 :
25) dan memuliakan manusia yang mau bekerja karena etika islam menurut
al-Faruqi dengan jelas menentang segala bentuk inta- minta dan cara hidup yang
mengisap keringat orang lain, dan bukan karena jeri paya dai orng tersebut.
Rasulullah telah menegaskan bahwa aktifitas ekonomi sangat dihargai dan
membenci pengganguran.[7]
Bertolak dari pemahaman diatas bahwa dalam islam sangat penting nilai seoang
yang bekerja dalam kehidupan manusia, sehingga
islam mengankat kerja pda level kewajiban beragama dengan menyebutkan
term kerja sebanyak 50 kali yang digandengkan dengan kata Iman.
Alfazur Rahman
ikut mempertegas bahwasannya manusia memang diciptakan untuk bekerja dengan
berdasarkan pada tafsir kata kabad dalam surat al-balad : (4)yaitu :
“ sesungguhnya kami telah menciptkan manusia berada dalam keadaan
susah payah”
Kabad berarti kesusahan, kesukaran, perjuangan dan
kesualitan akibat bekerja keras. Ini merupakan suatu ujian bagi manusia yanki
dia telah ditakdirkan berada pada posisi
yang sngat mulia(khalifah) tetapi hal itu akan terealisasikannya harus dengan
kerja keras. Setiap yang manusia lakukan didunia ini adalah murni hasil karya
dari individu itu sendiri yang kemudian manusia itu akan mendapatkan hasilnya
berupa kebahagiaan dalam hidupnya.[8]
Agar mampu untuk bekerja keras manusia diberikan kekuasaan atas
dirinya untuk mempertaahankan hidupnya didunia dikalah kesukaran dan maslah
yang dihadapinya dalam upaya memperjuangkan al- falah yang hakiki. Hal
ini menunjukan bahwasanya ajaran islam menunjukan bahwa hakikatnya, kehidupan
yang bahagia dan sempurna dapat diperoleh oleh siapan pun yang mau berusaha dan
bekerja keras dalam hidupnya. Berusaha yang dimaksudkan yakni berusaha yang
sebagaimana dimaksudkan dalam Quran.
Sebuah hadist otentik menuturkan adanya sabda Rasul demikian :
Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada
orang mukmin yang lemah, meskipun pada keduannya ada kebaikan. Perhatikanlah
hal –hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan
jangalah menjadi lemah. Jika musibah menimpahmu, maka janganlah berkata : “andai
kata aku lakukan sesuatu, maka hasilnya akan begini dan begitu,” sebaliknya
berkatalah “ketentuan Allah dan apa pun yang dikehendakinya tentu
dilakasankan-Nya,” sebab sesungguhnya perkataan “andikata” itu perataan setan.[9]
Dari hadist diatas dapat kita simpulkan sementara bahwasannya
bekerja adalah bentuk kekuatan yang ada pada diri individu dan kemalasan
merupakan hal yang menujukan kelemahan atau sikap pasra akan sesuatu yang
terjadi padnya tanpa melakukan usaha apapun. Hal ini sangat dicelah dalam islam
melalui quran bahawasanya Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu
merubah dirinya sendiri, hal ini membuktikan kepada kita bahwa bekerja merupan
sesuatu yang wajib dalam islam. seoarang yang mengakatakn beriman kepada Allah
itu tidak cukup mewakili keimanannya , karena beriman merupan satu kesatuan
dengan amalan yang diperbuatnya, beriman sesorang ketika hal yang dianjurkan
dlam agamnya terealisasikan dalam kehidupnya termasuk bekerja.
Ibn Taymiyyah menyebutkan utsman ibn affan, ali ibn abi thalib dan
abd al-rahman bin awf adalah contoh orang mukmin yang kuat,sedangkan abu dzarr
al- ghifari adalah orang mukmin yang lemah. Ibn taymiyyah tidaklah bermaksud
mengatakan kelemahan abu dzarr itu dalam hal keimanan, tetapi dalam hal pola
hidup duniawi yang ditempunya, ang membuatnya berpenampilan lemah, keteranga
ibn taymiyyah(lihat dalam IDP “sebuah telaan kritis tentang
kemanusiaan,keimanan dan kemoderenan” hal.417-418) Dari keteranga ibn
taimiyyah tentang “orang mukmin yang kuat” itu dapat diambil kesimpulan bahwa
sebaiknya rang yang beriman harus aktif dalam hidup didunia ini, dengan
dijiwahi pandangan bahwa dunia ini pun menyaediakan kebahagiaan, selain yang
kemudian kita dapat di akhirat sebagai kebahagiaan yang hakiki dan lebih abadi.
Dengan pandangan yang tidak seperti diatas akan berdampak pad implikasi setiap
do’a yang kita ucapkan untuk kebahagiaan didunia dan akirat maka akan sukar
untuk kita pahami. Jadi harus dipandang bahwa hal ini baik dan bernilai positif
karena banyak ditegaskan dalam kitab dan karenannya walaupun kebahagiaan
duniawi sangat terbatas namun itulah kebahagian yang merupakan bagian kecil
dari kebahagian di akhirat yang merupakan akibat amal yang telah kita upayakan
dalam kehidupan ini(atau merupan hubungan kausalitas atau sebab akibat).
Karena itu untuk membuat kuatnya seorang mukmin seperti yang
tersurat pada hadis nabi diatas maka perlu adanya kesadaran pada diri kita akan
bahwa manusia beriman harus bekerja aktif, sesuai dengan petunjuk lainnya
“katakanlah hai Muhammad: “ setiap pekerja harus sesuai dengan
kecenderunganya(bakatnya)....(Qs; 17 : 84) juga firman-Nya “ dan jika engkau
bebas(waktu luang), maka bekerja keraslah dan kepada Tuhanmu berusahalah
mendekatinya.(Qs; 94: 7-7)
Karena perintah agama untuk aktif bekerja itu maka Robert Bellah
mengatkan, dengan menggunakan uatu istilah dalam sosiaologi moderen, bahwa etos
yang dominan dalam islam ialah menggarap kehidupan dunia ini secara giat ,
dengan mengarahkannya kepada yang baik(ishlah). Maka dari itu ak sekali ketiak kita
coba renungkan firman alah dalam surah al-jumu’ah :
“maka bila sembayang telah usai , menyebarlah dimuka bumi dan
carialh Allah serta banyaklah mengingat
kepada Allah, gar kamu berjaya”
Dalam surat diatas
hendaklah kita beribadat sebagaiman diwajibkan , namun kemudian tidak melupakan
hal instrumen lainya seperti bekerja untuk mencari nikmat dan kemurahan Allah.
Bersama dengan itu maka kitas senantiasa ingat kepada-Nya, yakni memenuhi semua
ketentuan yang tentukan dalam syariat baik etis maupun aklak dalam kerja itu,
dengan kesadaran inilah kita selalu ingat bahwa setiap yang kita lakukan selalu
dalam pengawasan dan akan selalu dihitung setiap amal kita selama hidup.
Dari beberapa
urain diatas dapatlah kita simpulkan bahwa tujuan ideal yag perlu dicita-
citakan dalam bekerja, hendakalah selalu dalam kerrangkah ibadah kepada Allah.
Dengan bekerja sesorang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhanya semata, bahkan
juga untuk melayani kepentingan orang lain di lingkungan keluarga dan masyarkat
luas. Ini semua hanya bisa dilakukan
oleh seorang mukmin dengan komitmen yang tinggi terhadap ajaran islam
disertai dengan kemandirian yang manandai untuk berbuat padaa diri sendiri dan
orang lain
Penutup.
Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas penulis ingin sedikit menyimpulkan bahwa bekerja dalam dimensi ajaran
islam merupan hal yang wajib dan bekerja merupan bentuk keberadaan manusia itu
sendri, manusia ada karena kerja dan karena kerja maka manusia mampu mengetahui
eksistensinya sebagai manusia dimuka bumi dengan tugasnya yang amanahkan
sebagai khalifa fil ard.
Saran
Dari tulisan ini penulis merasa belum sempurna karena kesempurnaan
hakikat hanya milik yang maha Agung penguasa selurh jagad raya ini maka dari
itu penulis sangat mengharapakan krikan dan saran dari pembaca yang budiman
untuk sekirnya mengmbil andil dalam menyempurnakan tulisan ini, sebagai upaya
dalam mendekati kesempurnaan yang hakiki, Insyallah, Amin.
Daftar Pustaka
Majid, Nurcholis. 2000.
“masalah etos keerja di Indonesia dan
kemungkinan pengembagan dari sudut pandang ajaran islam, dalam Islam doktrin
dan peradapan”. Jakarta: Yayasan Wakaf paramadina.
Ahmad, Mustaq. 2007. “etika bisnis dalam prespektif Quran,
dalam Agama, Etika, dan Ekonomi – wacana menuju pengembagan ekonomi rabbaniyah”.
Malang: UIN Press.
[1]
Nurcholis majid, “maslah etos kerja di indonesia dan kemungkinan pengembangan
dari sudut pandang ajaran islam”, dalam IDP(jakarta ; yayasan wakaf paramadina,
2000).409
[2] Madjid,
masalah etos”, dlm ibid., 412
[3]
-------------- ibid.,413
[4] Majid,
maslah etos”, dlm ibid.,417-418
[5] Mustaq
Ahmad, “etika bisnis dalam prepektif Qur’an, dalam Agama, Etika, dan
Ekonomi,”wacana menuju pengembangan ekonomi rabbaniyah”(malang; UIN-Malang
Press,2007).138
[6] Ahamad ,
etika, ibid, 139
[7] Ahmad,
etika, ibid, 140
[8] Ahmad,
etika...,dalam Afzalur Rahaman. Doktrin ekonomi islam jilid 1, terj. Soeroyo
dan nastangin(yogyakarta : PT Dana Bhakti Wakaf, 1995),252, ibid., 141
Komentar
Posting Komentar